Seberapa Akurat Ingatan (Memori) Manusia?

Perhatian para psikolog kognitif dewasa ini semakin berkembang mengenai ingatan. Perkembangan penelitian terakhir dari masalah ingatan ini adalah masalah reliabilitas atau keakuratan ingatan yang dimiliki manusia. Penelitian ini memfokuskan perhatiannya pada apakah ingatan setiap orang bisa dipercaya dan akurat. Hal ini dirasakan penting saat bersinggungan dengan masalah-masalah faktual yang terjadi dalam kehidupan, misalnya apakah pernyataan saksi mata di pengadilan dari suatu kejadian bisa dipercaya dan menjadi bukti atau tidak, karena banyak sekali kasus kriminal bergantung pada keterangan saksi mata kejahatan. Dan pernyataan saksi mata ini sangat berpengaruh dalam pengadilan.
Bagaimanapun, ingatan manusia tidak bekerja seperti perekam video. Ketika kita mengingat suatu peristiwa, kita menyusunnya kembali dari semua informasi yang disediakan bagi kita, termasuk imajinasi kita dan petunjuk yang diberikan kuesioner. Dalam situasi sederhana, kecenderungan ini tidak berbahaya, tetapi jelas menjadi masalah serius di ruang pengadilan.

Untuk membuktikan akurasi ingatan manusia ini, E.F. Loftus (1975) mengadakan penelitian pada 105 mahasiswa. Pada mahasiswa-mahasiswa ini diperlihatkan sebuah film yang menampilkan sebuah mobil putih yang terlibat kecelakaan. Setelah itu mereka menjawab sepuluh pertanyaan yang berhubungan dengan film tersebut. Sembilan pertanyaan sama untuk semua partisipan dan satu pertanyaan berbeda. Setengah partisipan mndapat pertanyaan, “Seberapa cepat mobil itu melewati gudang?”, bukan “Seberapa cepat mobil itu melintasi jalanan desa?” Tidak ada gudang dalam film itu. Satu pertanyaan yang mengatakan gudang adalah pertanyaan untuk menyesatkan partisipan. Seminggu kemudian partisipan diminta kembali dan diberikan sepuluh pertanyaan tambahan tentang film tersebut. Kali ini peneliti memberikan satu pertanyaan, “apakah anda melihat sebuah gudang?” kepada semua partisipan.

Hasilnya, partisipan yang sebelumnya mendapat pertanyaan yang mengandung kata gudang menjawab bahwa mereka memang melihat gudang itu sebanyak 17 %, sedangkan yang tidak mendapat pertanyaan yang mengandung kata gudang menjawab memang melihat gudang itu sebanyak 3%. Hal ini menunjukkan bahwa memasukkan sesuatu yang sebenarnya tidak dilihat dalam pertanyaan, bisa membuatnya teringat sebagai bagian dari penglihatannya itu kelak di kemudian hari. Artinya, ingatan seseorang bisa dimanipulasi sedemikian rupa hingga ia merasa hal tersebut benar-benar dilihatnya dalam ingatannya. Penelitian ini juga membuktikan bahwa saksi bisa disesatkan dengan sengaja lewat pertanyaan yang diajukan.

Ketepatan atau akurasi ingatan ini juga diteliti pada anak-anak. Ada dua hal yang bisa diteliti perihal ingatan anak-anak; memeriksa keakuratan ingatan orang dewasa tentang masa kecilnya, dan memeriksa keakuratan cerita anak-anak tentang apa yang dialminya.

Peneliti selain Loftus, Ceci dan Bruck (1993) pernah mengadakan penelitian masalah akurasi ingatan anak-anak ini. Mereka menemukan, umumnya anak mampu mengingat peristiwa dengan sangat akurat jika ditanya dengan cara yang tepat. Namun, mereka juga menyimpulkan bahwa anak sangat mudah dipengaruhi (suggestible). Artinya, seperti orang-orang dewasa dalam studi Loftus, anak-anak bisa dipengaruhi lewat pertanyaan-pertanyaan agar mengingat hal-hal yang sebenarnya tidak mereka alami.

Penelitian mereka dilakukan dengan menyuruh sejumlah orang dewasa berulangkali bercerita kepada murid-murid Taman Kanak-kanak tentang laki-laki bernama Sam Stone yang sangat kikuk dan sering merusak barang-barang. Lalu, seseorang yang memang bernama Sam itu berkunjung ke sekolah Taman Kanak-kanak itu. Dia tidak merusak apa-apa. Sepuluh minggu kemudian anak-anak TK tersebut ditanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus seperti “saya ingin tahu apakah Sam memakai celana panjang atau celana pendek ketika dia merobek-robek buku itu?”.

Hasilnya, 70% anak ingat bahwa Sam memang telah merobek buku itu dan 45 % bahkan melaporkan telah melihat Sam melakukan hal tersebut. Jadi, walaupun sebenarnya ingatan anak-anak sangat baik, tapi ingatan mereka mudah sekali direkayasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyesatkan.


Silahkan Baca Juga Artikel Menarik Lainnya:

1 komentar: